Jakarta, 25 April 2026 — Ekosistem pesisir memiliki peran strategis sebagai fondasi utama dalam pengembangan pariwisata bahari berkelanjutan. Hal tersebut disampaikan Associate Professor Marine Ecotourism Departemen Ilmu Kelautan FPIK Universitas Padjadjaran, Donny Juliandri Prihadi, S.Pi., M.Sc., Ph.D., CBEc Tour, dalam ajang Marine Actions Expo (MAX) 2026 di Balai Kartini, Jakarta.

Dalam sesi talkshow bertajuk “Coastal Ecosystem untuk Blue Tourism dalam Mencapai Sustainable Tourism”, Donny menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir sebagai penopang utama sektor pariwisata laut. Ia mengawali paparannya dengan mengajak peserta memahami tiga ekosistem kunci, yaitu mangrove, terumbu karang, dan padang lamun.

Menurutnya, ketiga ekosistem tersebut tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetika, tetapi memiliki peran ekologis yang signifikan. Mangrove, misalnya, mampu menyerap karbon hingga empat kali lebih besar dibandingkan hutan daratan. Terumbu karang berperan dalam meredam energi gelombang laut hingga 97 persen, sehingga melindungi wilayah pesisir dari abrasi. Sementara itu, padang lamun menjadi penyimpan karbon jangka panjang sekaligus habitat bagi berbagai biota laut.

Lebih lanjut, Donny menyebut ketiga ekosistem tersebut sebagai “trilogi karbon biru” yang menjadi tulang punggung pariwisata bahari Indonesia. Ia menegaskan bahwa kerusakan ekosistem akan berdampak langsung terhadap penurunan daya tarik destinasi wisata serta kerugian ekonomi.

Indonesia sendiri memiliki potensi kelautan yang besar, dengan 17.466 pulau, garis pantai sepanjang 95.000 kilometer, serta luas mangrove mencapai 3,44 juta hektare dan terumbu karang sekitar 51.000 kilometer persegi. Bahkan, sekitar 70 persen cadangan karbon biru dunia berada di wilayah Indonesia. Namun demikian, dalam satu dekade terakhir, luas mangrove mengalami penurunan signifikan dan sebagian terumbu karang berada dalam kondisi rusak.

Dalam paparannya, Donny juga menyoroti pentingnya pendekatan ekonomi dalam konservasi. Ia mencontohkan bahwa kawasan dengan kondisi ekosistem yang baik cenderung memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Oleh karena itu, menjaga kelestarian lingkungan laut tidak hanya menjadi tanggung jawab ekologis, tetapi juga merupakan strategi pembangunan ekonomi berkelanjutan.

Melalui forum tersebut, Donny mendorong agar Indonesia mampu memanfaatkan potensi kelautan secara optimal dengan tetap menjaga keberlanjutan ekosistemnya. Ia menegaskan bahwa masa depan pariwisata bahari sangat bergantung pada kebijakan dan tindakan yang diambil saat ini.

Laporan: Dwima Alvionita Rivasta