
TIM peneliti gabungan dari berbagai kampus melakukan ekspedisi riset bertajuk Java Blue Odyssey yang dimulai 31 Januari hingga 15 Februari 2026. Lokasi penelitian itu menyasar ke perairan dangkal sejumlah daerah di utara dan selatan Pulau Jawa.
“Kami akan menyingkap potensi dan riset yang terkait dengan karbon, genetik, polusi, dan biodiversitas di laut dangkal,” kata ketua tim riset, Buntora Pasaribu, Senin, 2 Februari 2026.
Riset itu melibatkan 21 peneliti dan akademisi dari tiga institusi perguruan tinggi negeri. Selain Buntora, ada Noir P. Purba, Syawaludin A. Harahap, Neng Tanty Sofyana, Talita Margharedna, Nanik Retno Buwono, dan Yuli Irnidayanti.
Anggota tim terbanyak berasal dari Universitas Padjadjaran (Unpad) yang berjumlah sebelas orang. Mereka berasal dari Departemen Ilmu Kelautan, kemudian Program Studi S3 Perikanan dan Kelautan Berkelanjutan, serta Magister Konservasi.
Kemudian empat orang dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya, satu orang dari Departemen Biologi Universitas Negeri Jakarta, serta lima orang dari Torgas Laboratory.
Mereka memulai ekspedisi survei dan riset dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, kemudian ke Gresik, Malang, dan Pangandaran. Riset kolaborasi dengan benchmarking Studi S3 Perikanan dan Ilmu Kelautan Berkelanjutan Unpad juga dilakukan dengan menyambangi kampus di Malang dan Yogyakarta.
Buntora mengatakan tim riset ingin mengungkap potensi karbon yang ada dilihat dari luasan, umur sedimen, dan pengaruhnya terhadap distribusi keanekaragaman hayati di hutan mangrove yang dihubungkan dengan genetika organismenya. Mereka juga ingin melakukan pemetaan rumput laut dan alga di lokasi riset.
Menurut Buntora, isu yang mengiringi penelitian ini terkait dengan kondisi kesehatan lautan. “Apakah penyerapan karbon yang tersimpan di laut dangkal mengalami penurunan akibat polusi,” ujar dosen Unpad yang dinobatkan sebagai peneliti muda terbaik 2025 oleh Perhimpunan Periset Indonesia atau Association of Indonesian Researchers itu. Asumsinya, kondisi laut dangkal di utara dan selatan Jawa berbeda terkait faktor polusi, arus laut, dan kondisi perkembangan daerahnya.
Di perairan dangkal, tim memilih lokasi riset di daerah hutan mangrove, terkecuali di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Di sana, menurut Buntora, akan diteliti masalah polusi air laut dari kapal-kapal yang berlabuh.
Penelitian itu didanai oleh Riset Kolaborasi Indonesia program Equity World Class University 2025 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, juga Lembaga Pengelolaan Dana Pendidikan (LPDP) serta Torgas Laboratory.
Sumber: https://www.tempo.co/sains/ekspedisi-java-blue-odyssey-teliti-serapan-karbon-dan-polusi-2111961
