
Bitung, Sulawesi Utara — Laut dalam Indonesia kembali menjadi perhatian dunia melalui OceanX–BRIN Sulawesi Seamounts Mission, sebuah ekspedisi riset internasional yang dilaksanakan pada 5–23 Januari 2026. Ekspedisi ini menggunakan kapal riset mutakhir OceanXplorer dan merupakan hasil kolaborasi antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan OceanX.
Dalam ekspedisi tersebut, Ismail Maqbul, dosen dan periset dari Program Studi Ilmu Kelautan, Universitas Padjadjaran, turut berpartisipasi sebagai salah satu peneliti Indonesia yang terlibat langsung di atas kapal. Keterlibatan ini menegaskan peran aktif Universitas Padjadjaran dalam kolaborasi riset laut dalam bertaraf internasional serta kontribusinya dalam pengembangan ilmu kelautan nasional.

Ekspedisi OceanX–BRIN ini berfokus pada kajian ekosistem seamount atau gunung bawah laut di wilayah utara Sulawesi, kawasan laut dalam yang selama ini masih sangat terbatas data ilmiahnya. Seamount dikenal sebagai hotspot keanekaragaman hayati dan memiliki peran penting dalam konektivitas ekosistem laut dalam dan perairan dangkal, sehingga relevan bagi upaya konservasi dan pengelolaan sumber daya laut berkelanjutan.
Selama hampir tiga pekan pelayaran, tim peneliti melakukan pemetaan dasar laut dan pengambilan data oseanografi serta keanekaragaman hayati menggunakan berbagai teknologi canggih, seperti CTD rosette, kendaraan bawah air tanpa awak (ROV), submersible berawak, survei udara dengan helikopter, serta pendekatan environmental DNA (eDNA). Lebih dari 1.600 sampel ilmiah berhasil dikumpulkan, mencakup sampel air laut, sedimen, plankton, biota bentik, serta data akustik laut dalam.

Dalam ekspedisi ini, Ismail Maqbul berkontribusi pada kajian keanekaragaman hayati laut berbasis eDNA serta integrasinya dengan parameter oseanografi. Pendekatan eDNA memungkinkan pendeteksian organisme laut, termasuk spesies langka dan sulit diamati, melalui jejak genetik yang tertinggal di lingkungan laut, sehingga menjadi metode yang efisien dan non-invasif untuk pemantauan biodiversitas laut Indonesia yang luas dan menantang secara logistik.
“Laut dalam Indonesia bukan sekadar wilayah yang belum terpetakan, tetapi masa depan riset kelautan nasional. Melalui ekspedisi ini, kami tidak hanya mengumpulkan data ilmiah, tetapi juga membuka cerita besar tentang keanekaragaman hayati laut Indonesia. Dengan dukungan teknologi mutakhir dan kolaborasi internasional, ilmu pengetahuan dapat benar-benar hadir untuk menjaga laut Indonesia sekaligus menginspirasi generasi muda peneliti kelautan,” ujar Ismail Maqbul, dosen Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran.
Selain keterlibatan peneliti secara langsung di lapangan, kegiatan ini juga didukung oleh tim riset Universitas Padjadjaran yang tidak ikut serta secara onboard, namun berperan penting dalam perencanaan riset, diskusi ilmiah, pengolahan data, serta pengembangan publikasi pasca-ekspedisi. Tim tersebut terdiri atas Dosen Universitas Padjadjaran:
- Lady Ayu Sri Wijayanti, S.Pi., M.Sc. – Perikanan Laut Tropis,
- Gilar Budi Pratama, S.Pi., M.Si. – Perikanan
- Dining Nika Alina, S.Pd., M.Si. – Ilmu Kelautan
- Nurani Khoerunnisa, S.Pi., M.Si. – Perikanan Laut Tropis
- Dr. Agr. Sc. Neng Tanty Sofyana, S.Pi., M.Eng. – Ilmu Kelautan
Hasil awal ekspedisi menunjukkan bahwa ekosistem seamount di utara Sulawesi memiliki keanekaragaman hayati laut dalam yang tinggi serta indikasi kuat adanya konektivitas ekologis antara laut dalam, kolom air, dan perairan permukaan. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar ilmiah bagi pengembangan kawasan konservasi laut, pengelolaan perikanan berkelanjutan, serta perumusan kebijakan kelautan berbasis sains. Partisipasi dosen dan tim Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran dalam ekspedisi OceanX–BRIN ini sekaligus memperkuat posisi Unpad sebagai perguruan tinggi yang aktif berkontribusi dalam riset kelautan global dan pengembangan ilmu pengetahuan untuk keberlanjutan laut Indonesia.
