
FPIK Unpad melalui Program Studi Perikanan PSDKU Pangandaran beserta Himpunan Mahasiswa Perikanan, kembali menyelenggarakan seminar dengan tema “Hebat dan Sukses Berbisnis Perikanan”. Acara ini adalah rangkaian terakhir peringatan Dies Natalis FPIK ke-15. Diselenggarakan secara daring pada hari Selasa, 28 Juli 2020 dengan mendatangkan Dr. Edhy Prabowo, S.E., M.M., M.B.A (Menteri Kelautan dan Perikanan RI) sebagai keynote speaker, Dr. Dwi Indra Purnomo, S.TP., MT. (Founder The Local Enablers), Dr. Ir. Rita Rostika, MP. (Kaprodi Perikanan UNPAD PSDKU Pangandaran), Prof. Dr. Esti Handayani Hardi, S.Pi., M.Si. (Dosen FPIK Unmul/Founder Bio-Feed), Tigor Chandrama (Direktur Utama PT BOMAR), Syarif Syahrial, S.E., M.SE. (Direktur LPMUKP) sebagai pembicara, dan Fittrie M. Pratiwy, Ph.D. (Dosen FPIK UNPAD) sebagai moderator.

sebagai keynote speaker (Zoom meeting, 28 juli 2020)
Rangkaian acara sedikit berubah dari yang direncanakan, dikarenakan Bapak Meteri Kelautan dan Perikanan RI, selaku keynote speaker secara mendadak harus menghadiri rapat terbatas dadakan bersama presiden pada pukul 9:00 WIB, maka acara didahului dengan pemaparan dari beliau. Edhy Prabowo mengungkapkan bahwa bisnis perikanan khususnya perikanan budidaya, terutama budidaya udang memiliki prospek yg sangat cerah di masa depan dengan didukung dengan adanya teknologi dari hulu ke hilir, mulai dari teknologi pembenihan, pembesaran, pengolahan, dan pengepakan agar menjadikan bisnis ini sebagai bisnis yang menguntungkan dan mampu meningkatkan taraf hidup para pelaku usaha. Demikian juga dengan usaha perikanan tangkap yang memiliki peluang untuk menguasai pasar dunia dengan mendorong para investor yang bisa dijadikan tulang punggung devisa negara.
Menteri Edhy Prabowo mengungkapkan bahwa sekarang pengurusan izin budidaya disederhanakan. Dimana sebelumnya pembudidaya wajib mengurus 21 izin usaha, kini pemerintah hanya mengharuskan pengurusan satu surat pemberitahuan kegiatan usaha dari BKPM. Selanjutnya beliau mengajak semua pihak, terutama peserta seminar, untuk ikut terlibat dalam usaha budidaya udang ini. Sebab pemerintah telah menyiapkan akses permodalan baik melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) maupun pembiayaan melalui Badan Layanan Umum Lembaga Pengelola Modal Usaha Kelautan dan Perikanan (LPMUKP). Acara dilanjutkan dengan sambutan dari Dekan FPIK Unpad Dr.sc.agr. Yudi Nurul Ihsan, S.Pi,, M,Si., kemudian Wakil Rektor UNPAD Prof. Arief Sjamsulaksan Kartasasmita, dr., SpM(K)., M.Kes., PhD., yang sekaligus membuka secara resmi acara seminar.
Pada sesi berikutnya seminar dilanjutkan pada pembicara pertama yaitu Tigor Chandrama, Direktur Utama PT Bogatama Marinusa (Bomar) yang membawakan materi berjudul Shrimp Market. Menurut beliau, pemasok udang secara global pada tahun 2018 total ekspor udang mencapai 3.7 juta ton, lalu meningkat pada tahun 2019 dengan angka ekspor 4.45 juta ton, dan diperkirakan meningkat kembali pada tahun 2020 dengan angka ekspor 6.7 juta ton. Menurut FAO mengenai pasokan udang pada tahun 2019, 85% merupakan produksi udang dipanen di wilayah Pasifik Asia, China, India dan Indonesia. Sedangkan 15% berasal dari Amerika Latin. Beliau juga memaparkan bahwa beliau sudah menerapkan PCR untuk mendeteksi patogen dan virus sehingga setiap ekor benur udang yang dikeluarkan akan bebas dari penyakit.
Pemaparan materi kedua oleh Dr. Dwi Indra Purnomo, S.TP., MT, membawakan materi berjudul “Menumbuhkan Generasi Baru Pemberdaya Lokal Inovatif”. Pada masa sekarang, kita sedang berada di era digital tsunami. Pada era digital tsunami ini kita harus benar-benar hadir membawa model-model bisnis terkini dan bisa bertahan serta memenangkan persaingan. Menurut beliau, Universitas harus mulai memahami bahwa di dunia bisnis dan industri sudah mulai ada shifting terutama untuk model-model bisnisnya. Salah satu cara untuk mempersiapkan generasi baru yang berperan dalam bidang perikanan dan kelautan yaitu kita harus memiliki keahlian ganda seperti belajar di perguruan tinggi, mengikuti internship maupun memiliki kemampuan dalam managerial untuk mendukung dalam menciptakan generasi-generasi dengan keahlian ganda dan memiliki logika yang berintuisi, keterampilan kerja yang unggul, kemampuan akademik yang diperoleh di perguruan tinggi, memiliki Unit Kegiatan Mahasiswa, dan tentunya perlu melakukan kolaborasi dengan ekosistem pendukung seperti permagangan, bisnis, komunitas, pemerintahan, dan lain-lain.
Dilanjutkan dengan pembicara ketiga yaitu Syarif Syahrial, membawakan materi mengenai pemodalan usaha kelautan dan perikanan. Pada sektor kelautan dan perikanan, ada beberapa urgensi akses pemodalan seperti faktor produksi modal, lebih dari 85% pelaku usaha KP berskala mikro dan kecil, keterbatasan akses pemodalan, besarnya potensi dengan keterbatasan sarana produksi, serta adanya anggapan perbankan yang kurang tepat tentang sangat tingginya resiko sektor KP. Dalam mengatasi hal tersebut, KKP membentuk Badan Layanan Umum (BLU) yang memberikan pinjaman atau pembiayaan dana bergulir yang berdampingan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah dalam sektor KP di bidang penangkapan ikan, pembudidaya ikan, usaha garam rakyat, pengolah dan pemasar hasil ikan serta usaha masyarakat pesisir, kedai pesisir, wisata bahari dan lain sebagainya. Sesi pertama diakhiri dengan diskusi yang dipandu oleh moderator.
Sesi 2 dimulai pada pukul 10.50 WIB dengan pembicara keempat yaitu Dr. Ir. Rita Rostika, MP yang membawakan materi dengan judul “Peluang dan Tantangan Berbisnis Perikanan yang Hebat dan Sukses”. Kondisi saat ini walaupun dalam keadaan pandemi, kebutuhan konsumsi ikan tetap meningkat. Perubahan orientasi pembangunan perikanan saat ini dilakukan dalam pendekatan berorientasi maritim. Perubahan orientasi tersebut memiliki beberapa tantangan seperti perubahan iklim, perekonomian global, pertumbuhan penduduk, serta pandemi Covid-19 yang tantangan-tantangan tersebut memiliki dampak terhadap bisnis perikanan seperti lapangan pekerjaan, kesejahteraan pembudidaya/nelayan/pengolah, produksi domestic, lingkungan hidup, ketahanan pangan, dan imunitas manusia. Rita menjelaskan bahwa Indonesia sekarang dalam kondisi sleeping giant yaitu meskipun Indonesia memiliki potensi yang besar tetapi belum dimanfaatkan dengan baik. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal tersebut adalah industrialisasi perikanan budidaya dengan pelaksanaan yang membutuhkan akselerasi sehingga dapat dicapai perikanan budidaya yang efisien yang terwujud karena kemandirian, mampu bersaing serta dapat berkelanjutan yang bisa dipertahankan dalam aspek teknologi produksi, aspek sumber daya alam dan lingkungan, dan aspek sosial ekonomi. Selain itu, kita harus mengedepankan Pentahelix Collaboration secara akademisi, bisnis, pemerintahan, komunitas, dan media.
Dilanjutkan dengan pembicara terakhir yaitu Prof. Esti Handayani Hardi yang membawakan materi mengenai Peluang Bisnis dari Perguruan Tinggi: Obat Ikan Berbahan Dasar Tanaman Lokal. Hampir 100% produk obat ikan yang memiliki izin edar di KKP diproduksi dan dikelola oleh perusahaan-perusahaan besar dan tidak ada yang diproduksi oleh Perguruan Tinggi. Dari 431 obat ikan pada tahun 2020 tidak ada yang berbahan dasar alami, serta banyak ditemukan pembudidaya ikan menggunakan obat ikan untuk manusia karena tidak ada ketersediaan obat-obatan yang aman untuk digunakan. Beliau memaparkan bahwa ada peluang untuk mengembangkan produk-produk obat berbahan dasar tanaman-tanaman lokal dengan kegunaan untuk pertumbuhan, meningkatkan imunitas, meningkatkan daya cerna, menanggulangi penyakit dan mengontrol kualitas air sehingga aman untuk dikonsumsi oleh ikan.
Setelah pemaparan sesi kedua selesai, dilanjutkan dengan sesi diskusi berikut dengan penyerahan sertifikat untuk pembicara serta dilakukan sesi foto bersama yang menandakan bahwa seminar telah selesai dilaksanakan. Acara Seminar Online: Hebat dan Sukses Berbisnis Perikanan berakhir pukul 12.00 WIB.

