Perikanan merupakan salah satu sektor sumberdaya alam potensial untuk dijadikan modal dalam upaya mencapai tujuan pembangunan nasional. Luas wilayah periaran Indonesia untuk perikanan tangkap dan budidaya 672,7 juta hektar, dengan potensi produksi 65 juta ton/tahun. Jenis ikan demersal yang tergolong ekonomis penting adalah kakap putih, kerapu, manyung, bawal putih, kuwe, kurisi, layur, ikan pari dan ikan cucut, udang putih, udang windu, udang api-api, dan udang krosok. Jenis ikan pelagis kecil yang tergolong ekonomis adalah ikan kembung, layang, selar, lemuru, dan teri. Jenis ikan pelagis besar yaitu tuna, cakalang, dan tongkol. Jenis ikan karang, dan ikan hias laut serta ikan darat seperti ikan nila, patin, lele, mas, dan beberapa jenis ikan lokal seperti nilem, betutu, sipat, dan tagih. Jenis hayati lain menjadi penyumbang terhadap total produksi perikanan adalah rumput laut.
Potensi potensial yang sangat luar biasa dari sektor perikanan haruslah diwujudkan menjadi energi kenitik/gerak sehingga benar-benar dapat dirasakan manfaatnya dalam upaya mempercepat tercapai tujuan pembangunan nasional. Upaya perwujudan tersebut dapat dilakukan melalui kegiatan industri pengolahan hasil perikanan.
Industri pengolahan hasil perikanan merupakan kegiatan yang mentransformasikan bahan-bahan hasil perikanan sebagai input menjadi produk yang memiliki nilai tambah atau nilai ekonomi lebih tinggi sebagai outputnya. Proses transformasi tersebut dapat dilakukan baik secara fisik, kimia, biologis, maupun kombinasi diantara ketiganya. Dengan demikian, dalam melakukan proses transformasi, rekayasa penerapan teknologi maupun bioteknologi menjadi power atau kekuatan dalam memaksimalkan nilai tambah yang akan diperoleh sehingga menjadi efek pengganda ekonomi bangsa Indonesia dalam pembangunan nasional. Peran sentral dari industri pengolahan hasil perikanan dalam pembangunan nasional adalah:
Penyedia lapangan kerja, Industri pengolahan dan pemasaran hasil perikanan yang baru memanfaatkan 40 persen dari hasil produksi perikanan mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 6.205.189 orang pada tahun 2013. Seandainya, tingkat pemanfaatan produksi perikanan untuk pengolahan ditingkatkan menjadi 80 persen maka tenaga kerja yang diserap akan meningkat menjadi 12 juta-an orang. Angka tersebut sangat signifikan untuk menurunkan angka penggangguran di Indonesia
Sumber peningkatan devisa negara melalui peningkatan nilai tambah, ikan tuna senilai US$ 700.000 bila diolah menjadi ikan kaleng akan dihasilkan produk senilai US$ 1.240.000 dan produk samping berupa tepung ikan senilai sekitar Rp.500.000.000,-. Rumput laut jenis karaginofit Eucheuma cottonii dapat ditingkatkan nilai tambahnya dengan mengolahnya menjadi berbagai jenis produk seperti alkali treated cottonii (ATC), semi refined carragenan (SRC), refined carragenan dan karaginan kertas yang nilai tambahnya dapat mencapai hampir 450%.
Peningkatan kesehatan dan kecerdasan bangsa Indonesia melalui peningkatan konsumsi ikani, Minyak ikan lebih banyak mengandung asam lemak tak jenuh jamak atau polyunsaturated fatty acids (PUFA). Asam lemak tak jenuh jamak yang banyak terdapat pada ikan adalah asam lemak omega-3, terutama eikosapentanoat/EPA (C20:5, n-3) dan asam dokosaheksanoat/DHA (C22:6, n-3) (Irianto dan Soesilo (2007). EPA dan DHA menyediakan perlindungan terhadap peredaran darah, emosional, kekebalan, dan sistem syaraf. Peradangan seperti rematik, radang sendi, asma, sklerosis ganda, kanker payudara, skizofenia, depresi, dan penyakit ringan. Omega-3 juga dapat mencegah pengerasan arteri, menurunkan kadar trigliserida, dan mengurangi kekentalan yang menyebabkan penggumpalan platelet dalam darah.
Penjaga lingkungan melalui konsep industri bersih strategi zero waste, yaitu: memanfatakan bagian penyusun ikan secara efektif dan efisien 50-60% daging dibuat menjadi filet, steak, loin, daging lumat, surimi, produk reduksi, produk diversifikasi dan hidrolisat; Kulit dijadikan bahan kerajinan, makanan gelatin dan kolagen; Tulang & Kepala (30%) : dijadikan bahan makanan camilan, pakan (tepung), bahan farmasi (kondrotin, Ca, EPA, DHA), bahan industri (gelatin, lem); Isi Perut (5%) untuk bahan makanan (blander, gonad), produk fermentasu (kecap,petis), Pakan (tepung, silase), Bahan farmasi (enzim dan pepton). Memanfaatkan bagian penyusun udang : Daging : segar, beku, lumat, diversifikasi, fortifikasi, dan hidrolisat; Cangkang : Kitin, kitosan karatonoid ; Kepala : Makanan camilan, pakan, kitin,kitosan,karotenoid, terasi, petis, esen, flavor ; Kaki-kaki : makanan camilan dan recovery material, terutama material organik dan penggunaan air dan peningkatan keuntungan bagi lingkungan. Recovery material organik dari aliran efluen yang memiliki beban organik yang tinggi dengan metoda fisika-kimia dapat dipisahkan dan diolah menjadi tepung ikan. Reduksi konsumsi air dan penggunaan ulang (reutilisasi) efluen yang beraliran besar dengan kandungan organik rendah akan mereduksi volume efluen dan akan mereduksi biaya pengelolaan limbah.
Penyambung/pemerataan, Industri pengolahan hasil perikanan selain berperan dalam menyelamatkan hasil produksi perikanan juga berperan dalam pemerataan atau pendistribusian dari hasil produksi perikanan. Hasil produksi perikanan bersifat mudah rusak juga bersifat bulky, banyak membutuhkan ruang dalam penyimpanan dan pengangkutan. Sifat bulky tersebut sangat menyulitkan dan kurang efisien dalam proses penyimpanan dan pengangkutan, akibatnya, mempersempit pendistribusian dari pada komoditi perikanan. Dengan cara pengolahan kendala dapat diatasi.
Industrialisasi pengolahan hasil perikanan harus menjadi objek kegiatan utama di sektor perikanan dalam penanganan dan pengembangannya. Penanganan industri pengolahan hasil perikanan hendaknya dilakukan dengan baik dan benar, begitu pula dengan arah pengembangannya. Hal ini karena industri pengolahan hasil perikanan di Indonesia memiliki banyak peluang disamping tantangan yang ada. Peluang industri pengolahan hasil perikanan adalah sebagai berikut : pasar domestik maupun ekspor produk olahan hasil perikanan yang masih terbuka luas, adanya dukungan pemerintah yang kuat terhadap keberlangsungan industri pengolahan hasil perikanan di Indonesia, adanya kecenderung peningkatan permintaan olahan siap saji oleh konsumen, adanya potensi ketersediaan bahan baku yang besar, dan adanya ketersediaan tenaga kerja yang melimpah. Tantangan untuk industri pengolahan ikan di Indonesia adalah persaingan yang sangat ketat dalam mendapatkan bahan baku ikan segar, negara pesaing telah menerapkan integrated technology yang memungkinkan pengolahan di laut yang belum diterapkan oleh industri pengolahan ikan dalam negeri, persyaratan ekspor semakin ketat, masih adanya Illegal Fishing dan transhipment ikan dilaut, kenaikan harga Bahan Bakar Minyak dan masih adanya persepsi negatif pada perdagangan internasional seperti adanya zat pengawet ( Mercury Issue) dan ikan yang tidak segar dari Indonesia.
Dalam upaya mensukseskan peran industri pengolahan hasil perikanan dalam pembangunan nasional dengan memperhatikan peluang dan tantangan yang ada, maka beberapa hal perlu dilakukan antara lain : peningkatan jumlah kapal armada penangkapan yang berskala besar (200 GT ke atas), peningkatan pemberlakuan atau penerapan Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) bagi unit pengolahan ikan (UPI) atau industri pengolahan ikan, dan peningkatan pendidikan dan pelatihan tentang teknik pengolahan yang baik.


