Tingginya intensitas kegiatan perikanan di Waduk Cirata dan kegiatan masyarakat di sekitar daerah aliran sungai Citarum dan anak sungainya, meningkatkan bahan organik dalam perairan Waduk Cirata. Kualitas air yang semakin buruk ini salah satunya dicirikan oleh warna air yang hijau dan meledaknya pertumbuhan gulma air Eceng Gondok (Eichornia crassipes), yang berdampak pada menurunnya kandungan oksigen dan penetrasi cahaya ke dalam perairan.
Proses pengangkatan Eceng Gondok di Cirata yang melibatkan mahasiswa FPIK Unpad pada 18 Maret 2015 *
Dalam rangka mewujudkan potensi sumber daya hasil perikanan yang berdaya saing berkelanjutan, Forum Peningkatan Masyarakat Sadar Mutu Karantina Ikan Jawa Barat bekerja sama dengan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Unpad melakukan kegiatan “Ngaraksa Cirata” pada Rabu (18/03) lalu. Kegiatan tersebut diikuti oleh 350 peserta yang terdiri dari pembudidaya ikan Cirata, serta perwakilan mahasiswa FPIK angkatan 2010, 2011, 2012 dan 2013. Acara dibuka oleh Kepala Badan Karantina Ikan Pengelolaan Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan RI, R. Narmoko Prasmadji.
Aktivitas yang dilakukan adalah pengangkatan eceng gondok dan sampah yang menutupi perairan Waduk Cirata dan Saresehan. “Kegiatan pengangkatan eceng gondok dan sampah dilakukan di 4 wilayah meliputi Cipicung, Ganda Soli, Cirata dan Cipeundeuy,” tutur dosen FPIK Unpad, Dra. Titin Herawati. M.Si. Titin menyebutkan, Ngaraksa Cirata merupakan suatu tindak dari kepedulian terhadap Cirata. Apabila kondisi buruk tersebut terus dibiarkan, akan terjadi dampak eutrofikasi, yakni perairan waduk tidak sesuai dengan fungsinya. Kegiatan ini juga melibatkan Dr. Isni Nurruhwati sebagai Kepala P2K2M. Harapan ke depan, kegiatan ini dapat berlangsung secara berkelanjutan sehingga dapat menimbulkan dampak yang nyata pada kualitas perairan di Waduk Cirata.


