Fakultas perikanan dan ilmu kelauatn, Universitas Padjadjaran, mengundang para tokoh nasional yang berkecimpung dibidang lobster di Indonesia dalam sebuah forum webinar berjudul “Masa Depan Lobster di Indonesia”. Webinar ini dilaksanakan pada hari Rabu (31/3) menghadirkan Ir Arik Hari Wibowo M.Sc selaku Direktur produksi dan usaha budidaya KKP wakil dari Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia yang sedang berhalangan hadir. Ir Arik Hari Wibowo M.Sc menyampaikan pesan dalam hal mengoptimalkan pengelolaan industri lobster untuk mewujudkan indonesia sebagai produsen lobster terbesar di dunia. Upaya ini memerlukan adanya perhatian khusus terhadap 4 aspek utama yaitu teknologi, keberlanjutan lingkungan, aspek sosial ekonomi, dan juga aspek pasar. Optimalisasi industri lobster di Indonesia tidak bisa berdiri sendiri sehingga membutuhkan kerjasama dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah, pengusaha, pembudidaya, serta masyarakat luas. 

Pemerintah kedepan akan mencanangkan program kampung lobster. Sehingga dengan adanya konsep kampung lobster diharapkan dapat meningkatkan pasar domestik maupun pasar internasional. 

Webinar yang di moderatori oleh Dr Achmad Rizal (Dosen FPIK, Unpad) ini juga melibatkan akademisi yang diwakili oleh Dr.Sc. Agr Yudi Nurul Ihsan M.Si (Dekan FPIK, Unpad) dan Prof. jamaludin Jompa (Dekan Sekolah Pasca, Unhas), pengusaha dan penulis buku tentang lobster Bayu Priambodo Ph.D, Tokoh Komisi Nasional Pengkajian Sumberdaya Ikan (Komnaskajiskan) Prof. Dr. Ir. Indra jaya, M.Sc (FPIK, IPB) dan juga Komisi Nasional Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Indonesia, Kodrat Wibowo SE, MA, Ph.D. 

Lobster menjadi salah satu komoditi ekonomis penting yang menjadi salah satu kekuatan perekonomian indonesia. Pengembangan budidaya lobster di Indonesia menjadi hal besar yang menantang serta meminta perhatian lebih untuk menjadi sebuah industri lobster yang besar dan tangguh. PR kita sebagai masyarakat perikanan adalah bagaimana caranya sumber daya alam ini bisa memberikan keuntungan ekonomi kepada masyarakat kemudian juga dari aspek ekologi tidak merusak dan aspek sosial dapat mengembangkan masyarakat.

Secara makro, dunia saat ini dihadapkan pada realita bahwa upaya pemenuhan kebutuhan pangan tidak bisa berharap lagi kepada perikanan tangkap, tetapi masih dari segi budidaya. Sektor budidaya perlu ditingkatkan demi terpenuhinya pangan global. Penelitian ilmiah dapat dijadikan acuan dalam meningkatkan produksi budidaya lobster. Benih lobster yang dapat ditemukan di alam memerlukan pengkajian dalam proses penangkapannya. Pengambilan berlebih akan memberikan dampak deplesi terhadap sumberdaya. Namun dalam kajian sementara, pengambilan benih lobster di alam masih dalam taraf aman. Benih lobster yang ada di alam jika tidak dimanfaatkan akan memasuki siklus kematian alami, sehingga kalua kita mengambil prinsip pemanfaatan secara berkelanjutan dengan mengambil setengah dari jumlah sumberdaya yang tersedia, maka sesungguhnya potensi untuk dioptimalkan agar bernilai ekonomi untuk nelayan dan masyarakat agar bisa diekspor tidak perlu ditutup. Peluang-peluang untuk mensejahterakan masyarakat perlu mendapat perhatian yang dibutuhkan disini adalah sebuah manajemen dan kajian -kajian mendalam mengenai penangkapan benih lobster supaya tidak sampai melebihi kuota tangkap. Tidak berhenti disitu, permasalahan ekspor benih lobster yang menjadi isu terkini di dunia perikanan kelautan juga dipaparkan oleh beberapa narasumber. Pemerintah akan mengeluarkan permen baru yang mengacu dalam permen kp 20/2020 mengenai Regulasi industri benih bening lobster (BBL) yang selama ini telah melakukan upaya dalam pengaturan pemanfaatan BBL untuk ekspor tetapi dalam implementasinya masih banyak terjadi penyimpangan, selain itu permasalahan persaingan antar pengusaha serta terjadinya korupsi juga menjadi permasalahan yang terjadi dilapangan. Perbaikan permen kp diharapkan menjadi regulasi baru yang menjadi salah satu jalan penyelesaian sehingga mengurangi terjadinya problem di dunia usaha terutama dalam bidang penegakan hukum dan penentuan pasar.