Pada tanggal 13-15 Desember 2016, mahasiswa Ilmu Kelautan angkatan 2015 mengadakan praktikum lapangan di pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu. Praktkum ini terdiri dari 3 mata kuliah inti kelautan yakni Oseanografi Fisika, Meteorologi Laut, dan Oseanografi Kimia. Adapun kegiatan ini sendiri dipimpin oleh dosen Noir P. Purba, Ibnu Faizal, dan Yusuf Nurrahman. Pengukuran arus, gelombang, pasang surut, kualitas air, dan kondisi atmosfer dilakukan dengan instrumen portabel untuk mengetahui kondisi sesaat. Mahasiswa yang mengikuti kegiatan ini diharapkan dapat merencanakan survei, manajemen orang, melakukan pengukuran, mengolah data, dan analisis dasar.

Gambar atas (kiri-kanan): Briefing sebelum ke lapangan, dan pengukuran gelombang
Bawah (kiri-kanan) kalibrasi alat dan pencatatan, dan pengukuran arus

Mahasiswa dibagi dalam 10 kelompok kecil dan tersebar di seluruh sisi pantai dengan karakteristik pantai yang berbeda. Masing-masing kelompok diberikan Kerangka Acuan kerja dan diharapkan dapat menyelesaikan kegiatan pengumpulan data pada sore hari dan kemudian mengevaluasinya pada malam hari. Dari hasil evaluasi didapatkan sejumlah tantangan dalam praktikum yakni keterbatasan alat, keakuratan alat, lokasi yang tidak sesuai dengan yang dibayangkan. Diskusi ini dapat membantu mahasiswa untuk memperkaya pengalaman dalam mengatasi lapangan yang berbeda. Mahasiswa juga mengatakan bahwa kuliah lapangan ini dapat menambah pengalaman mereka dalam berbagai hal.

Evaluasi kegiatan yang dipimpin oleh Sdr. Hilton dan Sdri. Maharani

Kuliah lapangan ini juga disertai dengan program Aksi Bersih Pantai (ABP) yang rutin dilaksanakan, ABP ini disponsori oleh unit survey dan usaha mahasiswa KOMITMEN Corporate melalui dana grants (Diwakili oleh Isnan F. Pangestu) serta Himpunan Mahasiswa Kelautan. ABP kali ini bekerja sama dengan dinas kebersihan provinsi DKI Jakarta. Pak Sartono selaku Kepala Seksi Kebersihan di Untung Jawa mengatakan bahwa pekerja kebersihan di pulau ini sekitar 62 orang. Beliau juga menyatakan bahwa kebanyakan sampah yang ada di pulau ini berasal dari 13 sungai di Jakarta. Noir P. Purba juga mengamini bahwa dengan sistem arus yang ada di sekitar kepulauan Seribu, membawa dampak negative dari pembuangan sampah dari daratan pulau Jawa. Angin juga membantu penyebaran sampah terutama sampah yang mengapung. Dari hasil pengamatan yang dilakukan di sepanjang pantai bahwa sampah terbanyak adalah stereofoam yang sudah mengalami benturan (tidak utuh seperti bentuk awalnya). Pada pembersihan kali ini kegiatan pembersihan dilakukan 2 hari yakni pada hari 1 membersihkan di 10 stasiun di seluruh pinggiran pantai dan pada hari ke dua Mahasiswa dan petugas membersihkan fokus pada kawasan mangrove. Selain itu, mahasiswa juga melakukan edukasi kepada pengunjung dan masyarakat dengan melakukan penempelan stiker untuk menjaga kebersihan. Mangrove merupakan ekosistem yang sangat bagus untuk trapping sampah. Kegiatan ini diakhiri dengan sesi photo bersama dengan petugas. Sebagai daerah destinasi wisata, selayaknya pulau ini dijaga kebersihannya, dan selain itu yang lebih utama adalah agar ekosistem dapat terjaga dengan baik.

Pengumpulan sampah, penempelan stiker dan sesi photo bersama

Penulis: Noir P. Purba