
Rabu (16/9), kuliah perdana dilaksanakan sebagai agenda tahunan dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran dalam rangkaian acara penyambutan mahasiswa baru. Pada acara tersebut, FPIK mengundang Ibu Dr. Ir. Paristiyanti Nurwardani, MP sebagai pembicara. Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unpad, Dr. Sc. Agr. Yudi Nurul Ihsan menyampaikan informasi kepada kemdikbud melalui Bu Paris tentang pembaruan kurikulum yang dilakukan oleh FPIK Unpad dalam menindaklanjuti kebijakan baru menteri pendidikan tentang kampus merdeka, dan mempersilakan bu Paris untuk menjelaskan lebih lanjut mengenai kegiatan yang dapat dilakukan oleh mahasiswa selama kuliah dalam program kampus merdeka.

Ibu Paris, selaku Sekretaris Ditektorat Jenderal Pendidikan Tinggi menyampaikan beberapa poin penting dalam acara ini. Pesan-pesan tersebut disampaikan kepada para dosen dan mahasiswa mengenai peran-peran pendidikan tinggi selama pandemi covid-19 serta mengajak para akademisi berperan dalam pemulihan ekonomi Indonesia. Bu Paris juga memberikan insight mengenai tantangan dan peluang besar dalam dunia usaha yang bisa dimasuki oleh para mahasiswa perikanan dan kelautan. Bu paris mengajak para akademisi untuk aktif berinovasi dalam melakukan kegiatan-kegiatan positif untuk kemajuan perikanan kelautan. Bu Paris juga menyarankan agar lulusan FPIK dapat memperkuat kemampuan di bidang teknologi dan memperluas jangkauan data perikanan kelautan. Dalam kesempatan ini pula disampaikan mengenai upaya Kemdikbud dalam membangun budaya maritim dan ocean literacy di perguruan tinggi. Kemdikbud mendorong mahasiswa dan dosen untuk melakukan pengembangan Iptek dengan jalan pengayaan mata kuliah, mendorong lulusan untuk menciptakan lapangan kerja dengan melalui kewirausahaan, optimalisasi penelitian di bidang perikanan kelautan, serta revitalisasi vokasi kemaritiman. Kemampuan yang harus dimiliki oleh mahasiswa pada abad 21 terutama tentang financial literacy, ICT literacy, creativity, communication, dan kemampuan problem solving untuk diperhatikan dan dikedepankan. Mengutip pernyataan Presiden Jokowi bahwa lima belas tahun akan datang, Indonesia memerlukan 9 juta ahli digital tanpa terkecuali ahli di bidang kemaritiman. Dukungan pemerintah terhadap program pengembangan SDM ahli IT tidaklah main-main, dana yang akan digelontorkan sampai dengan 2500 T rupiah dalam 5 tahun ke depan. Pak presiden juga berpesan dalam percepatan transformasi perekonomian Indonesia, maka pembangunan sumber daya manusia menjadi tonggak dalam mewujudkannya. SDM yang paling hebat di Indonesia adalah dari pendidikan tinggi. Jadi seharusnya solusi bangsa ada di pendidikan tinggi, yang menjadi agen pemulihan ekonomi pasca covid dan SDM berdaya saing global. Bu Paris berharap keluarga FPIK Unpad menjadi salah satu di antaranya.
Bu Paris juga menyampaikan 6 motor penggerak perekonomian Indonesia yaitu bidang agribisnis termasuk juga perikanan di dalamnya, pariwisata termasuk pariwisata bahari, health care, e-commerce, dan ekspor tenaga kerja, dan di dalamnya pula diperlukan SDM yang ahli dalam big data. Tahun ini dan tahun depan, pemerintah akan menyiapkan sebesar 600.000 jago data untuk 10 bidang termasuk di dalamnya bidang kemaritiman. Maka dari itu solusi program kampus merdeka menjadi salah satu jalan untuk menelurkan ahli-ahli tersebut. Guru besar dan dosen dituntut untuk memberikan proses pembelajaran yang tidak hanya mengasah hardskill, tapi juga softskill, sehingga lulusan universitas tidak hanya jago kandang, tetapi memang mempunyai kemampuan bersaing global. Tidak hanya itu, lulusan universitas juga dituntut untuk mempunyai kemampuan berbahasa asing yang baik, bersertifikat internasional dan juga mempunyai akhlak yang berbudi mulia.
Sistem proses pembelajaran di pendidikan tinggi, serta penerapan hasil dari tridharma diharapkan menjadikan lulusannya menjadi manusia yang beriman, bertaqwa kepada Tuhan YME, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, menjadi warga negara demokratis serta bertanggung jawab. Pada akhir presentasinya, Bu Paris memberikan pandangan mengenai beberapa tantangan maritim 4.0 yang dihadapi oleh dosen dan mahasiswa generasi sekarang.

