

Manchester, November 2025.
Melalui program Padjadjaran Academic Recharging (PAR), dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran, Fittrie Meyllianawaty Pratiwy, Ph.D., yang merupakan staff pengajar di kepakaran akuakultur, Departemen Perikanan, melaksanakan kegiatan Visiting Academic selama satu bulan di Department of Cardiovascular Sciences, Faculty of Biology, Medicine and Health, University of Manchester (UoM), Inggris, universitas peringkat #35 dunia berdasarkan QS World University Rankings 2026.
Kegiatan ini turut memperkuat hubungan akademik antara Unpad dan University of Manchester, terutama setelah Prof. Holly A. Shiels sebelumnya hadir sebagai guest lecturer di FPIK Unpad. Prof. Holly, mantan President of the Fisheries Society of the British Isles (FSBI), dikenal luas sebagai figur penting dalam riset fisiologi ikan dan pemanfaatan hewan akuatik dalam studi kardiovaskular.
Selama berada di Manchester, Dr. Fittrie terlibat dalam penelitian yang mengkaji pengaruh mikroplastik (carboxylate-dyed microspheres) terhadap feeding behaviour larva zebrafish. Selain itu, ia Bersama tim mempelajari penggunaan transgenic zebrafish untuk riset perkembangan jantung dan regulasi jalur sinyal biologis. Integrasi antara data perilaku, fisiologi, dan ekspresi gen pada satu model hewan memberikan perspektif yang komprehensif mengenai dampak polutan akuatik serta relevansinya dalam konteks biomedis. Pendalaman metodologi ini sejalan dengan bidang yang selama ini ditekuni Dr. Fittrie di FPIK Unpad, khususnya terkait fisiologi ikan dan respons organisme akuatik terhadap stres lingkungan.
Selama proses persiapan eksperimen, Prof. Holly A. Shiels turut menyampaikan apresiasinya terhadap kontribusi Dr. Fittrie dalam penyempurnaan rancangan penelitian. “your (Dr. Fittrie) expertise with experimental design is deeply valued,” ujar Prof. Holly. Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya kolaborasi dua arah antara kedua institusi, sekaligus menggambarkan bagaimana keahlian Dr. Fittrie dalam desain percobaan memberikan nilai tambah dalam pelaksanaan riset berbasis model ikan di University of Manchester.

Mengapa Zebrafish Penting untuk Biomedis dan Bioindikator Lingkungan?
Zebrafish merupakan model yang sangat fleksibel untuk riset lintas disiplin karena sejumlah karakteristik biologis yang unik. Pada tahap larva, tubuhnya yang transparan memungkinkan observasi langsung terhadap organ, aliran darah, dan aktivitas saraf tanpa prosedur invasif. Hingga usia lima hari, larva zebrafish juga tidak tergolong protected species, sehingga studi awal dapat dilakukan dengan pendekatan non-invasif yang etis dan efisien. Spesies ini menunjukkan respons sangat sensitif terhadap polutan, menjadikannya bioindikator ideal untuk menguji efek mikroplastik dan kontaminan akuatik lainnya. Dari sisi biologi, zebrafish memiliki kemiripan jalur fisiologis dengan manusia, terutama pada sistem kardiovaskular dan metabolisme, sehingga sangat relevan digunakan dalam riset penyakit. Kemampuan untuk dimodifikasi secara genetik juga memungkinkan pembentukan model transgenik yang dapat merepresentasikan kondisi kesehatan tertentu pada studi biomedis.
Dengan karakteristik tersebut, riset yang dilakukan di Manchester menunjukkan bagaimana satu spesies ikan dapat menjawab pertanyaan ilmiah baik di bidang biologi lingkungan maupun biomedis, dua bidang yang saling bersinggungan dalam studi dampak polusi terhadap kesehatan organisme. Selain kegiatan laboratorium, Dr. Fittrie juga berkesempatan memberikan special lecture mengenai rhythmic of fish feeding behavior, berpartisipasi dalam 2025 Greater Manchester Physiology Symposium, serta turut membimbing (co-supervising) dua mahasiswa PhD yang mengerjakan topik terkait fisiologi dan model kardiovaskular ikan. Keterlibatan ini tidak hanya memperkuat hubungan riset antara FPIK Unpad dan University of Manchester, tetapi juga sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui riset model biomedis, SDG 14 (Life Below Water) melalui kajian dampak mikroplastik pada organisme akuatik, dan SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui pengembangan kolaborasi internasional serta pertukaran pengetahuan lintas institusi. Integrasi kegiatan riset, pengajaran, dan kemitraan ini membuka peluang kolaborasi lanjutan dalam studi mikroplastik, model hewan akuatik untuk biomedis, serta mobilitas akademik mahasiswa dan staf.

| Dr Fittrie, PhD Student, Prof Holly Shiels | FTIR Mapping untuk Jaringan Ikan yang Terdampak Mikroplastik |
