{"id":8130,"date":"2019-11-01T04:27:19","date_gmt":"2019-10-31T21:27:19","guid":{"rendered":"https:\/\/fpik.unpad.ac.id\/?p=8130"},"modified":"2019-12-05T04:08:30","modified_gmt":"2019-12-04T21:08:30","slug":"pemanfaatan-limbah-cangkang-kepiting-sebagai-bahan-penambahan-pembuatan-pangan-berkalsium-tinggi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fpik.unpad.ac.id\/en\/pemanfaatan-limbah-cangkang-kepiting-sebagai-bahan-penambahan-pembuatan-pangan-berkalsium-tinggi\/","title":{"rendered":"Pemanfaatan Limbah Cangkang Kepiting Sebagai Bahan  Penambahan Pembuatan Pangan Berkalsium Tinggi"},"content":{"rendered":"<p class=\"wp-block-paragraph\">Asupan kalsium di Asia\nmenjadi yang paling rendah, yaitu 868 mg\/hari jika dibandingkan dengan orang\nkulit putih (1180 mg\/hari) dan Hispanik (896 mg\/hari). Begitu pula dengan\nasupan kalsium di Indonesia. Masyarakat di Indonesia hingga saat ini diketahui\nmasih belum memenuhi tingkat gizi kalsiumnya. Menurut pdpersi.co.id (2006),\nrata-rata konsumsi kalsium remaja di Indonesia yaitu hanya sebesar 240 mg\/hari.\nSementara kecukupan kalsium pada remaja di Indonesia seharusnya adalah 1000\nmg\/hari (AKG Indonesia, 2006). Kurangnya kandungan gizi kalsium dapat\nmenyebabkan beberapa dampak bagi masyarakat, diantaranya yaitu lambatnya\npertumbuhan tulang pada anak, kurang kuatnya tulang sehingga mempercepat proses\npengeroposan tulang (osteoporosis), dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kurang terpenuhinya\ngizi kalsium masyarakat dapat dikarenakan masyarakat masih mengandalkan\nterpenuhinya kalsium hanya dari mengonsumsi susu sapi atau susu kedelai.\nPadahal, kandungan gizi kalsium dapat terpenuhi dari sumber lainnya, salah\nsatunya adalah dari pengolahan limbah cangkang kepiting menjadi tepung yang\ndapat digunakan sebagai bahan baku atau bahan tambahan pembuatan makanan yang\ndapat dikonsumsi oleh masyarakat. Makanan yang dapat dibuat dengan penambahan\ntepung cangkang kepiting yaitu seperti <em>crackers, <\/em>biskuit, bahkan mie.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Cangkang kepiting\nsendiri mengandung banyak kandungan gizi yang dapat dimanfaatkan juga sebagai\nbahan makanan, seperti kalsium, protein, karbohidrat, dan lainnya. Komposisi\nkimia tepung cangkang kepiting bakau (<em>Scylla serrata<\/em>) meliputi kadar air\n5,38% (bb), abu 57,26% (bk), lemak 2,38% (bk), protein 13,62% (bk) serta\nkarbohidrat 28,67% (<em>by difference<\/em>). Kadar abu merupakan komponen cangkang\nkepiting bakau yang memiliki nilai tertinggi yaitu 57,26% bk. Hal ini\nmenunjukkan bahwa cangkang kepiting bakau mengandung mineral yang sangat\ntinggi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pembuatan tepung dari\nlimbah cangkang kepiting menjadi makanan yang dapat dikonsumsi, dalam hal ini\nyaitu mie, merupakan salah satu pemanfaatan untuk mengurangi limbah yang masih\ndapat dimanfaatkan, meningkatkan nilai gizi kalsium masyarakat, serta\nmengurangi kegiatan impor pangan dengan adanya produk inovasi baru bergizi\ntinggi. Kegiatan pengolahan limbah cangkang kepiting selain memenuhi dalam\nbidang pangan, juga dapat membantu dalam bidang perekonomian masyarakat.\nKegiatan pengolahan limbah cangkang dapat meningkatkan ekonomi dengan\ndiperlukannya tenaga kerja dalam produksinya, sehingga dapat mengurangi\npengangguran di masyarakat sekitar, serta dapat juga meningkatkan pendapatan\nmasyarakat.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"545\" height=\"364\" src=\"https:\/\/fpik.unpad.ac.id\/wp-content\/uploads\/image001-8.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-8131\" srcset=\"https:\/\/fpik.unpad.ac.id\/wp-content\/uploads\/image001-8.jpg 545w, https:\/\/fpik.unpad.ac.id\/wp-content\/uploads\/image001-8-300x200.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 545px) 100vw, 545px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Adanya pemanfaatan\nlimbah cangkang kepiting menjadi tepung sebagai bahan penambahan pangan\nberkalsium tinggi ini merupakan gagasan yang diberikan oleh dua mahasiswa Kema\nFPIK, yaitu M. Fikry Adrian (Perikanan 2017) dan Siti Faridah (Perikanan 2017)\npada kegiatan National Essay Competition Kovalen Edu Fair IX 2019 yang\ndiselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Prodi Kimia Kovalen Universitas Sebelas Maret pada tanggal 26-27 Oktober 2019, dengan mengusung\ntema kegiatan yaitu \u201cRealisasi Peran Generasi Milenial dalam Mendukung\nPembangunan Berkelanjutan Guna Terciptanya <em>Sustainable\nDevelopment Goals<\/em> (SDGs) Tahun 2030\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Begitu merasa bangga\nbagi kedua mahasiswa perwakilan FPIK yang dapat berpartisipasi dengan\nmempresentasikan hasil karya essay yang dibuatnya pada kegiatan Grand Final\nbersaing dengan sembilan tim lainnya dalam mengemukakan gagasannya demi\nterciptanya SDGs sesuai tema yang diusung. Adanya kegiatan-kegiatan semacam ini\nyang diikuti oleh para mahasiswa FPIK diharapkan dapat meningkatkan kualitas\nsumber daya Kema FPIK menjadi lebih unggul dan mampu bersaing dengan sumber\ndaya dari universitas lain untuk membuktikan bahwa Universitas Padjadjaran\nmemiliki banyak generasi muda yang dapat bermanfaat dan berperan penting bagi\nbangsa dan negara.<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Asupan kalsium di Asia menjadi yang paling rendah, yaitu 868 mg\/hari jika dibandingkan dengan orang kulit putih (1180 mg\/hari) dan Hispanik (896 mg\/hari). Begitu pula dengan asupan kalsium di Indonesia. Masyarakat di Indonesia hingga saat ini diketahui masih belum memenuhi tingkat gizi kalsiumnya. Menurut pdpersi.co.id (2006), rata-rata konsumsi kalsium remaja di Indonesia yaitu hanya sebesar [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1001024,"featured_media":8132,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[50],"tags":[],"class_list":["post-8130","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-mahasiswa"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fpik.unpad.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8130","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fpik.unpad.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fpik.unpad.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fpik.unpad.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1001024"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fpik.unpad.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8130"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fpik.unpad.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8130\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fpik.unpad.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/8132"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fpik.unpad.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8130"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fpik.unpad.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8130"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fpik.unpad.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8130"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}