{"id":11291,"date":"2021-02-13T08:08:32","date_gmt":"2021-02-13T01:08:32","guid":{"rendered":"https:\/\/fpik.unpad.ac.id\/?p=11291"},"modified":"2021-02-21T06:37:38","modified_gmt":"2021-02-20T23:37:38","slug":"rahasia-yang-harus-diketahui-tentang-pembenihan-kerang-scallops-amusium-pleuronectes","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fpik.unpad.ac.id\/en\/rahasia-yang-harus-diketahui-tentang-pembenihan-kerang-scallops-amusium-pleuronectes\/","title":{"rendered":"Rahasia Yang Harus Diketahui Tentang Pembenihan Kerang Scallops (Amusium Pleuronectes)"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(sorotindonesia.com, 12\/2\/2021) Negeri Jepang, khususnya Pulau Hokkaido merupakan lokasi tujuan Praktek Kerja Lapangan (PKL) mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran selama 1 atau 2 semester sebagai wujud penerapan <em>Kampus Merdeka Belajar<\/em>\u00a0yang dicanangkan oleh Bapak Nabiel Makarim, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di Pulau ini terdapat sentra budidaya laut, khususnya\u00a0<a href=\"https:\/\/sorotindonesia.com\/mengenal-kerang-scallop-produk-perikanan-potensial\/\">kerang scallops<\/a>\u00a0(<em>Amusium Pleuronectes<\/em>)\u00a0 yang banyak dibudidayakan dengan sistem\u00a0<em>Jimake\u00a0<\/em>atau menebar benih di ladang kerang dasar laut. Tulisan ini terdiri dari beberapa seri, seri ini merupakan tahap ke 3, yakni pembenihan\u00a0<a href=\"https:\/\/sorotindonesia.com\/kerang-scallop-amusium-pleuronectes-aspek-biologi-yang-wajib-diketahui-pembudidaya-kerang\/\">kerang scallops<\/a>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pembenihan Kerang scallops adalah upaya manusia mengumpulkan\u00a0<em>spat\u00a0<\/em>kerang scallops yang lahir di laut kemudian membesarkan serta mengirimkannya. Selama budidaya, kerang scallops tumbuh dengan memakan fitoplankton di laut. Metode budidaya yang digunakan di sebagian besar wilayah Hokkaido adalah metode rawai gantung (Gambar 1).<\/p>\n<p><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-11404 aligncenter\" src=\"https:\/\/fpik.unpad.ac.id\/wp-content\/uploads\/New-Picture-7-1.jpg\" alt=\"\" width=\"551\" height=\"315\" srcset=\"https:\/\/fpik.unpad.ac.id\/wp-content\/uploads\/New-Picture-7-1.jpg 551w, https:\/\/fpik.unpad.ac.id\/wp-content\/uploads\/New-Picture-7-1-300x172.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 551px) 100vw, 551px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pengambilan benih alami larva kerang scallops yang mengambang di laut memiliki sifat melekat pada benda-benda saat mencapai ukuran sekitar 0,3 mm. Dengan memanfaatkan sifat tersebut, wadah pengambil benih direndam di dalam laut agar larva yang mengambang menempel pada wadah pengambil benih. Pengambilan\u00a0<em>spat\u00a0<\/em>kerang yang menempel dan bertumbuh disebut \u201cpengangkatan benih alami\u201d.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Wadah pengambil benih ada dua jenis yaitu:\u00a0<strong>Kantong Bawang Bombay<\/strong>\u00a0yang berisi netron net atau Jaring Tua, dan\u00a0<strong>Jaring Batang<\/strong>\u00a0yang dibuat dari jaring tua yang diikat dalam bentuk batang. Saat memasang wadah pengambil benih, mula-mula kumpulkan larva yang mengambang menggunakan jaring plankton, cek jumlah dan ukuran larva menggunakan mikroskop, hal ini dilakukan untuk menentukan waktu pemasangan wadah pengambil benih. Pemasangan wadah pengambil benih dilakukan beberapa kali secara bertahap, perhatikan bentuk wadah yang digunakan pembudidaya di Teluk Funka\/\u00a0<strong>jaring batang\u00a0<\/strong>dan Teluk Mutsu \/kantong bawang bombay (Gambar 2 dan 3).<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-11405 aligncenter\" src=\"https:\/\/fpik.unpad.ac.id\/wp-content\/uploads\/New-Picture-8.jpg\" alt=\"\" width=\"304\" height=\"353\" srcset=\"https:\/\/fpik.unpad.ac.id\/wp-content\/uploads\/New-Picture-8.jpg 304w, https:\/\/fpik.unpad.ac.id\/wp-content\/uploads\/New-Picture-8-258x300.jpg 258w\" sizes=\"(max-width: 304px) 100vw, 304px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><em>Gambar 2.\u00a0 Jaring Batang yang digunakan sebagai wadah penyimpan benih, biasa digunakan pembudidaya di Teluk Funka, Jepang.<\/em><\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-11402 aligncenter\" src=\"https:\/\/fpik.unpad.ac.id\/wp-content\/uploads\/New-Picture-9.jpg\" alt=\"\" width=\"437\" height=\"332\" srcset=\"https:\/\/fpik.unpad.ac.id\/wp-content\/uploads\/New-Picture-9.jpg 437w, https:\/\/fpik.unpad.ac.id\/wp-content\/uploads\/New-Picture-9-300x228.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 437px) 100vw, 437px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><em>Gambar 3.\u00a0 Jaring Kantong Bawang Bombay\u00a0 yang digunakan sebagai wadah penyimpan benih, biasa digunakan pembudidaya di Teluk Mutsu, Jepang.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jika proses pengambilan benih alami ini tidak dapat menjamin\u00a0<em>spat<\/em>\u00a0yang cukup, maka akan berdampak besar pada budidaya kerang scallops dan\u00a0<em>Jimaki<\/em>\u00a0(penyebaran kerang scallops di dasar laut), jadi dapat dikatakan proses ini yang paling penting. Perlu dicatat bahwa di Jepang, produksi benih buatan kerang scallops tidak dilakukan sangat mengandalkan benih dari alam.<\/p>\n<h6><strong>Pengambilan Benih dan Penyebarannya<\/strong><\/h6>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pengambilan benih kerang scallops dimulai sekitar bulan Maret,\u00a0 karena\u00a0<em>spat\u00a0<\/em>kerang yang menempel pada wadah pengambil benih dapat tumbuh dengan pesat, maka begitu wadah pengambil benih diangkat dari laut segera\u00a0<em>spat\u00a0<\/em>kerang diambil.\u00a0<em>Spat\u00a0<\/em>kerang yang diambil dari wadah pengambil benih dipindahkan kedalam keranjang besar yang ukuran mata keranjangnya disesuaikan dengan tahap pertumbuhannya. Tahapannya adalah sebagai berikut,<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li>\u201c<em>Kari-Bunsan<\/em>\u201d (Sortir Sementara)<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di wilayah Teluk Funka yang menggunakan wadah pengambil benih dalam bentuk jaring batang dan di wilayah yang menggunakan wadah pengambil benih dari kantong bawang Bombay, \u00a0yang banyak bintang laut dan kepiting yang masuk kedalamnya, maka bintang laut dan kepiting harus disingkirkan untuk menghindari hama pemakan\u00a0<em>spat\u00a0<\/em>kerang. Selain itu, jika ukuran\u00a0<em>spat\u00a0<\/em>kerang disortir ukurannya dengan saringan, maka pekerjaan sortir utama sebagai tahap berikutnya dapat dilakukan secara efisien. Ini disebut \u201cKari-bunsan\u201d dan dimulai sekitar bulan Juli.\u00a0<em>Spat\u00a0<\/em>kerang hasil \u201cKari-bunsan\u201d ditempatkan di dalam jaring mutiara\/<em>ZabutonKago<\/em>\u00a0(Gambar 3) dan digantung di fasilitas budidaya.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-11403 aligncenter\" src=\"https:\/\/fpik.unpad.ac.id\/wp-content\/uploads\/New-Picture-1-2.jpg\" alt=\"\" width=\"274\" height=\"329\" srcset=\"https:\/\/fpik.unpad.ac.id\/wp-content\/uploads\/New-Picture-1-2.jpg 274w, https:\/\/fpik.unpad.ac.id\/wp-content\/uploads\/New-Picture-1-2-250x300.jpg 250w\" sizes=\"(max-width: 274px) 100vw, 274px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><em>Gambar 4.\u00a0 Zabuton Kago<\/em><\/p>\n<ul>\n<li>\u201dHon-Bunsan \u201c (Sortir Utama)<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Spat\u00a0<\/em>kerang scallops hasil \u201cKari-Bunsan\u201d yang digantung kedalam laut diangkat. Lalu dengan menggunakan saringan,\u00a0<em>spat\u00a0<\/em>kerang disortir berdasarkan ukurannya, dan dibagi berdasarkan tujuan penggunaannya seperti untuk benih\u00a0<em>Jimaki<\/em>\u00a0(penyebaran dasar laut), pengiriman kerang muda dan pengiriman kerang dewasa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Masukkan kembali kedalam jaring mutiara (wadah benih) dengan jumlah yang telah ditentukan berdasarkan tujuan penggunaannya. Proses ini disebut \u201cHon-Bunsan\u201d dan dimulai sekitar bulan Agustus. Berdasarkan waktu pengiriman sebagai kerang muda atau kerang dewasa, sortir kedua atau sortir ketiga dapat dilakukan proses ini. Di daerah yang proses Kari-Bunsan tidak dilakukan, wadah pengambil benih diangkat mulai akhir bulan Juli hingga bulan Agustus untuk memisahkan bintang laut dan kepiting. Selain itu, dengan menggunakan saringan,\u00a0<em>spat\u00a0<\/em>kerang disortir berdasarkan ukurannya, dan dimasukkan kedalam jaring mutiara dengan jumlah yang telah ditetapkan berdasarkan ukuran untuk dipasarkan, dan digantung kembali di fasilitas budidaya. Pada setiap kali proses sortir, jaring mutiara juga diganti agar mata jaringnya lebih besar yang sesuai dengan pertumbuhan kerang. Jumlah\u00a0<em>spat\u00a0<\/em>kerang yang dimasukkan juga harus disesuaikan secara tepat, agar pertumbuhan kerang tidak terganggu.<\/p>\n<h6><strong>Pemeliharaan\u00a0<em>Spat\u00a0<\/em>Kerang (Pemeliharaan juvenile)<\/strong><\/h6>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Spat\u00a0<\/em>kerang yang telah disortir utama digantung untuk jangka waktu tertentu, kemudian dipelihara di jaring mutiara sampai mencapai ukuran tertentu yang sesuai untuk budidaya atau\u00a0<em>Jimaki<\/em>\u00a0(penyebaran di dasar laut).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Proses pengumpulan benih dilakukan sejak Maret, lalu sortir sementara dan sortir utama berlangsung hingga Agustus. Para mahasiswa yang melakukan magang di industri budidaya scallops dapat melakukan hal ini pada kegiatan magangnya.<\/p>\n<p>Penulis :\u00a0<strong>Rita Rostika<\/strong><\/p>\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(sorotindonesia.com, 12\/2\/2021) Negeri Jepang, khususnya Pulau Hokkaido merupakan lokasi tujuan Praktek Kerja Lapangan (PKL) mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran selama 1 atau 2 semester sebagai wujud penerapan Kampus Merdeka Belajar\u00a0yang dicanangkan oleh Bapak Nabiel Makarim, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Di Pulau ini terdapat sentra budidaya laut, khususnya\u00a0kerang scallops\u00a0(Amusium Pleuronectes)\u00a0 yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1001024,"featured_media":11295,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-11291","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fpik.unpad.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11291","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fpik.unpad.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fpik.unpad.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fpik.unpad.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1001024"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fpik.unpad.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11291"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fpik.unpad.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11291\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fpik.unpad.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/11295"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fpik.unpad.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11291"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fpik.unpad.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11291"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fpik.unpad.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11291"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}