Sampah laut masih dan masih menjadi isu penting di Indonesia juga secara global. Berbagai aksi yang dilakukan baik skala global dan skala nasional sudah dilakukan, walaupun kegiatan ini bukanlah sebagai solusi jangka panjang. Pada dasarnya, sebelum budaya masyarakat diperbaharui, maka hal ini akan tetap menjadi masalah.

Diperlukan pekerjaan yang masiv untuk mendukung rencana pemerintah untuk mengurangi 70% sampah laut pada tahun 2025. Salah satu indikatornya adalah dengan melihat densitas dan jenis sampah di seluruh perairan Indonesia. Tanpa data, kebijakan dan aturan seharusnya tidak bisa dilakukan (policy based on research). Tidak ada data yang mumpuni untuk wilayah yang luas seperti Indonesia. Dari data yang telah dikumpulkan dari beberapa artikel, data tersebut masihlah merupakan data yang didapatkan dari beberapa lokasi. Selain itu, belum banyaknya penelitian lintas studi. Padahal penelitian lintas ini sangat diharapkan untuk melihat secara komprhensif kondisi sampah di Indonesia.

Penelitian terbaru yang dipublikasikan oleh Peneliti di ilmu kelautan, Universitas Padjadjaran menemukan bahwa riset sampah terutama yang ada di laut Indonesia tidak terlalu “seksi” untuk dilakukan. Riset yang dipublikasikan di Marine Pollution Bulletin, mengemukakan bahwa tidak banyak riset yang kita punya (<50) hingga tahun 2019. Padahal berdasarkan riset tersebut, sampah yang ditemukan berada hampir di semua pantai wisata, ekosistem, kolom air, dan sedimen. Riset ini juga menunjukkan diperlukannya kesepahaman banyak sektor untuk menangulangi sampah laut. Untuk itu, Ilmu Kelautan sudah memulai pendataan sampah di sekitar 60 lokasi di Indonesia. Data ini merupakan data yang bersifat ilmiah dan merupakan salah satu data yang terbanyak di Indonesia.

Beberapa kasus sampah laut yang ada di perairan adalah Great Pacific Garbage Patch yang ada di Pasifik Utara. Sampah ini sangat luas dan jika tidak ditanggulangi, maka sangat berpotensi masuk ke perairan Indonesia melalui Indonesian Troughflow.  Penelitian lainnya juga mengungkapkan bahwa perairan Artik juga disebut sebagai tempat sampah di lautan berakhir. Sampah ini mengelilingi lautan selama seribu tahun dan mengendap di Artik. Studi berikutnya juga mengungkapkan bahwa sampah dapat ditranspor ke berbagai wilayah di Indonesia melalui sistem arus yang kompleks. Jadi, penanggulangan sampah di laut dan di pantai bukan saja merupakan tanggung jawab masyarakat lokal tetapi juga masyarakat global.

Selama ini, penanganan sampah dilakukan di daratan, namun sebenarnya Indonesia sendiri juga mendapatkan sampah dari luar Indonesia. Budaya masyarakat Indonesia yang sering membuang sampah sembarangan harus diubah. Ada banyak negara yang sudah sadar terhadap sampah. Di Jerman, masyarakat sudah sadar bahwa ketika supermarket, membawa tas sendiri, walaupun plastik kresek yang dijual sangatlah murah. Tidak banyak plastik yang beredar di rumah-rumah, karena masyarakat sudah paham bagaimana dan kapan plastik harus digunakan. Apakah di Indonesia bisa? Saya yakin bahwa masyarakat kita mampu untuk melakukan hal tersebut. Waktu untuk mencapai target pengurangan sampah di tahun 2025 tinggal 6 tahun lagi. Setidaknya banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan. Sekali lagi, teknologi dan aksi pembersihan yang sudah dilakukan merupakan target jangka pendek, tetapi merubah perilaku masyarakat adalah yang sangat penting.

By: Noir P. Purba

Artikel ini merupakan bagian dari artikel yang diterbitkan di Marine Pollution Bulletin. Untuk mensitasi artikel ini: Purba, N.P., Handyman, D.I., Pribadi, T.D., Syakti, A.D., Pranowo, W.S., Harvey, A., Ihsan, Y.N. 2019. Marine debris in Indonesia: A review of research and status. Marine Pollution Bulletin, 146, 134-144