[unpad.ac.id, 6/2/2020] Sungai Citarum adalah nadi kehidupan masyarakat Jawa Barat. Di sepanjang daerah alirannya padat oleh aktivitas manusia dan industri. Hal ini mendorong potensi pencemaran di wilayah sungai Citarum sangat memprihatinkan.

Guru besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran Prof. Dr. ir. Zahidah, M.S., menjelaskan, pencermaran masif yang terjadi di kawasan DAS Hulu Citarum menyebabkan kerusakan parah. Ini menjadi salah satu pemicu terjadinya banjir saat musim hujan di sejumlah wilayah di Kabupaten Bandung.

“Sementara pada musim kemarau debit air mencapai 2,7 m3.s-1, sehingga menyebabkan kekeringan, gagal panen, dan PLTA Saguling kekurangan pasokan air. Tentu saja fluktuasi debit air yang besar ini mengganggu pula aktivitas budidaya KJA pada ketiga waduk serial Citarum,” ujar Prof. Zahidah saat membacakan orasi ilmiah berjudul “Citarum Bersih, Cirata Sehat”, Kamis (6/2).

Orasi ilmiah itu dibacakan berkenaan dengan Penerimaan Jabatan Guru Besar Prof. Zahidah pada bidang Ilmu Produktivitas Pertanian di FPIK Unpad. Upacara digelar di Graha Sanusi Hardjadinata Unpad, Jalan Dipati Ukur No. 35, Bandung.

Rusaknya sungai Citarum juga berpengaruh pada aktivitas Keramba Jaring Apung (KJA) di Waduk Cirata. Prof. Zahidah menjelaskan, di satu sisi jumlah aktivitas KJA di Cirata semakin lama semakin banyak dan melampaui daya dukung dari waduk tersebut. Kondisi tersebut menimbulkan banyak masalah, di antaranya yang paling menonjol adalah penurunanan kualitas air.

“Penurunanan kualitas air berdampak pada timbulnya banyak masalah lain yang berpotensi menjadi Musibah untuk banyak pihak,” ujarnya.

Melalui program “Citarum Harum” yang digagas Pemerintah, evaluasi pengelolaan KJA di Waduk Cirata menjadi salah satu programnya. Prof. Zahidah mengatakan, ada beberapa upaya yang harus diperhatikan agar budidaya ikan di KJA Cirata dapat optimal.

“Perlu dilakukan reevaluasi kualitas air air Waduk Cirata secara keseluruhan,” jelas Prof. Zahidah.

Penerimaan Jabatan Guru Besar pada bidang Ilmu Produktivitas Pertanian di FPIK Unpad yang digelar di Graha Sanusi Hardjadinata Unpad, Jalan Dipati Ukur No. 35, Bandung, Kamis (6/2)

Pemilihan jenis ikan yang dibudidayakan harus tepat mengingat semakin menurunnya kualitas air. Selain itu, kata Prof. Zahidah, pemanfaatan teknologi untuk mengantisipasi penurunan kualitas air.

Ada sejumlah teknologi yang dapat diadopsi. Teknologi tersebut merupakan hasil penelitian yang dilakukan oleh sivitas akademika FPIK Unpad.

“Teknologi pertama yang dapat diadopsi untuk meminimalkan sisa pakan yang dapat mengendap di dasar perairan adalah dengan mengaplikasikan jaring penangkap limbah yang dipasang pada bagian bawah KJA. Teknologi kedua yang dapat diadopsi ditujukan untuk meningkatkan konsentrasi oksigen terlarut adalah dengan pemberian aerasi pada saat-saat kritis,” pungkasnya.*