Senin, 5 Februari 2018 bertempat di Mall Pasific Place Jakarta Selatan, Gregory Poling yang merupakan Direktur dari thre Asia Maritime Transparency Initiative and Fellow in the Southeast Asia Program at the Center for Strategic and International Studies mempresentasikan sekaligus diskusi masalah yang bertema menjaga lingkungan dan perikanan Laut China Selatan (LCS).

Natuna-LCS merupakan daerah yang menjadi sengketa dan mendapatkan pengakuan dari berbagai negara disekitarnya. Filipina, Vietnam, Tiongkok, Indonesia merupakan sebagian dari beberapa negara yang mengakui daerah ini sebagai wilayah perairan mereka, salah satunya adalah di Kepulauan Spratly. Akibat dari sengketa LCS ini terdapat beberapa kerusakan yang khususnya berdampak pada perairan Kepulauan Spratly tersebut diantaranya:

  • Sekitar 70 – 95% stock ikan menurun
  • Rasio penangkapan ikan yang menurun hingga mencapai 66-75%
  • Kerusakan karang mencapai 16 %, khusus di daerah kepulauan Spratly kerusakan mencapai 160 km2 bahkan

Dalam presentasinya, dijelaskan bahwa masing-masing negara baik itu Indonesia, Malaysia, Brunei, Taiwan, Tiongkok, Vietnam, dan Filipina memiliki wilayahnya masing-masing dalam pengakuan mereka terhadap daerah tersebut, namun di lain hal mereka perlu menjaga daerah bersama, yang merupakan ekosistem penting perairan tersebut untuk menjaga stabilitas sumberdaya yang ada didalamnya.

Dalam sengketa ini terjadi penyelewengan yang dilakukan oleh China/Tiongkok yang mengeksploitasi kekayaan sumber daya tersebut dengan berlebihan. Kapal-kapal milik China bertengger di daerah tersebut dan menurunkan jangkar secara sembarangan sehingga merusak daerah terumbu karang, sehingga membuat suatu kekhawatiran negara lain. Berkaitan dengan hal tersebut, hukum internasional UNCLOS pun telah mengatur mengenai kerjasama negara-negara yang berbatasan dengan laut dalam menegakkan hak dan kewajiban mereka terhadap lingkungan laut, juga hukum yang mengatur perlindungan terhadap lingkungan laut yang termuat dalam pasal 123 dan 192.

Merambat pada persoalan lain, Amerika Serikat (AS) merasa terganggu dengan kebebasan pelayarannya akibat tindakan yang dilakukan oleh China tersebut yang dianggap sebagai salah satu yang dapat menghalangi atau membatasi kebebasan pelayarannya kelak, sehingga AS melakukan “cooperate”dengan beberapa negara ASEAN untuk menjadi Sekutu yang menentang aturan China yang dicanangkan. Disisi lain, China pula merasa khawatir dengan keikutsertaan AS dalam hal ini, sehingga masalah ini bertambah besar dan semakin memanas.

Menurut pendapat Gregory keikutsertaan AS terhadap masalah ini yaitu untuk akses militer agar bisa beroperasi di laut internasional, juga amerika tidak mau mengikuti aturan yang dicanangkan oleh China yang seolah-olah membatasi. Selain itu, Amerika hanya ingin china tidak menggunakan kekuatan militer untuk menyelesaikan masalah ini.

Pada nyatanya, keadaan ini sulit untuk diredam, karena ambisi setiap negara untuk memiliki sumber daya yang sangat besar, yang dikandung dari daerah tersebut. Bukan hanya sektor perikanan saja, migas pun berlimpah. Ditambah lagi kerumitan dengan hadirnya AS dengan kekhawatiran terhadap kebebasan pelayarannya. Menurut pendapat Grogory ASEAN pun memiliki peranan yang lemah dalam permasalahan ini karena tidak semua dari negara ASEAN yang terlibat dalam sengketa ini, dan tidak lazim juga daerah yang tidak ada hubungannya dengan LCS harus ikut campur.

Solusi untuk menjaga lingkungan dan perikanan di LCS ini adalah kerjasama antara peneliti dan ilmuan dalam riset untuk membuktikan atau menelaah blueprint. Diantara blueprint tersebut yakni wilayah yang dilindungi dan wilayah komersil serta tujuan agar menjaga lingkungan.

Presentasi yang dilakukan Gregory sangat bagus dan memacu kita untuk menambah wawasan terhadap perlindungan khususnya, dan masalah LCS pada umumnya. Namun dalam diskusi ini juga menyinggung masalah politik, hingga terjadi debat yang berkepanjangan antara audiens dengan Gregory.

Salah satu dosen FPIK Unpad, M. Wahyudin Lewaru, S.Pi.,M.Sc, menanyakan mengenai : (1) Kepentingan AS mengenai isu konflik LCS? ; (2) Bagaimana kita melakukan koloborasi riset antara beberapa negara yang terlibat di LCS ;dan (3) Bagaimana menurut pendapat anda (Polin) cara untuk mengakhiri Konflik di LCS. Jawaban dari Polin untuk pertanyaan tersebut adalah sebagai berikut : (1) AS tidak memiliki kepentingan apapun mengenai isu yang terjadi saat ini, AS hanya ingin membantu dan menegakan aturan tentang hukum laut internasional; (2) Pemerintah masing-masing sebaiknya mendorong untuk melakukan riset sumberdaya di LCS, karena ilmuan dianggap independen (tidak memiliki kepentingan); (3) Negara-negara yang terlibat duduk bersama dan mencarikan jalan tengah terbaik apabila ada sumber daya alam yang tersimpan di wilayah LCS, contoh : antara Sumber daya Gas Jepang dan Korea Selatan yang menjadikan meraka berbagi profit dan kerjasama.

Laporan dari Rudiansyah Ismail/zm