Home / Berita / Dr. Zuzy Anna, dra., M.Si., “Perikanan Mendukung Terwujudnya Ketahanan Pangan di Indonesia”

Dr. Zuzy Anna, dra., M.Si., “Perikanan Mendukung Terwujudnya Ketahanan Pangan di Indonesia”

[Unpad.ac.id, 17/04/2017] Berbicara pengelolaan perikanan berkelanjutan, maka kita dihadapkan pada kompleksitas permasalahan karena luasnya dimensi sektor perikanan. Upaya ini akhirnya membutuhkan pengelolaan serius dan konsisten untuk seluruh aspek. Sebab, sektor perikanan memiliki harapan besar bagi masa depan ekonomi bangsa Indonesia.

Dosen Departemen Sosial Ekonomi Perikanan dan Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unpad, Dr. Zuzy Anna, dra., M.Si., (Foto: Tedi Yusup)*

Dosen Departemen Sosial Ekonomi Perikanan dan Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unpad, Dr. Zuzy Anna, dra., M.Si., mengatakan, pengelolaan perikanan berkelanjutan tidak hanya dilakukan dari sisi ekonomi, tetapi juga menyangkut aspek biologi dan sosial. Dengan memperhatikan tiga sektor ini, diharapkan pengembangan perikanan berkelanjutan di Indonesia akan terwujud.

Dari segi ekonomi, pengelolaan perikanan Indonesia harus mempertimbangkan faktor input-output-nya. Dr. Zuzy mengatakan, dengan adanya kecenderungan akses terbuka (semi open access) di sektor perikanan Indonesia, semua memiliki kesempatan untuk mengambil ikan di perairan. Secara perizinan, hanya nelayan nontradisional yang harus mendapat izin pengambilan ikan di laut. Selebihnya, nelayan tradisional terbuka untuk mengambil ikan di perairan Indonesia.

“Kalau propertinya milik bersama, aksesnya open access, semua akan mengejar dan masuk tanpa ada yang menghalangi. Ini bisa menimbulkan fenomena over fishing. Terlalu banyak kapal menangkap ikan yang terlalu sedikit (too many boat chassing to few fish),” papar Dr. Zuzy saat diwawancarai beberapa waktu lalu.

Padahal, proses penangkapan ikan di laut sejatinya ialah mengambil jumlah ikan yang surplus di ekosistem. Dr. Zuzy menjelaskan, ada kontrol alami terhadap jumlah populasi ikan yang disesuaikan dengan habitatnya. Jika jumlah populasi tumbuh ikan melebihi kapasitas di dalam laut, maka nelayan berhak untuk menangkap kelebihan dari ikan itu.

Secara biologis, pengelolaan perikanan berkelanjutan berarti mempertahankan keseimbangan jumlah populasi ikan di laut. Jika penangkapan tidak dikontrol dan menyebabkan over fishing, secara sosial kecenderungan usaha di bidang perikanan akan menurun. Untuk itu, pengelolaan perikanan berkelanjutan juga berarti menjaga keberlanjutan usaha dari para nelayan, pembudidaya, maupun industri pengolahannya.

Sustainable itu menangkap kelebihan ikannya. Tangkap yang kelebihan, jangan nangkap berlebihan,” jelasnya.

Dr. Zuzy pun menyanggah terkait pernyataan konservasi lingkungan akan berbanding terbalik dengan peningkatan ekonomi. Di sektor perikanan, konservasi perairan justru akan menguntungkan nelayan. Proses pemulihan kawasan perairan akan memberikan manfaat banyak bagi para nelayan di masa depan.

Ia mencontohkan, dalam suatu wilayah perairan ada kawasan yang dijadikan konservasi karena dinilai menjadi lokasi perkembangbiakan ikan yang cukup tinggi. Dengan demikian, nelayan dilarang mengambil ikan di no take zone area konservasi itu dan harus mengambil di luar wilayah konservasi. Kemungkinan dalam satu atau dua tahun awal, ada biaya lebih yang harus dikeluarkan nelayan karena harus mengambil ikan dengan jarak cukup jauh.

Namun, dalam tahun-tahun berikutnya akan dapat dikompensasi karena jumlah ikan yang tumbuh di kawasan konservasi akan melebihi kapasitas dan keluar dari zona tersebut (spill over). “Nelayan kan tinggal di sekitar kawasan konservasi, ikan-ikan justru akan mudah didapat,” ujar Deputy Director dari SDGs Center Unpad ini.

Estimasi ini merupakan hasil kajian yang dilakukan Dr. Zuzy. Dengan menggunakan metode Bioeconomic modelling, ia menghitung komposisi input-output dari sektor perikanan. Melalui metode ini, ada perkiraan estimasi berapa jumlah ikan dalam suatu kawasan perairan,  serta berapa jumlah ikan yang boleh ditangkap agar aspek keberlanjutannya dapat terjaga.

“Hasil riset saya menunjukkan bahwa jika kita mengkonservasi suatu kawasan pesisir dan laut, maka, nilai ekonominya akan tinggi, karena selain memperoleh nilai ekonomi market dalam bentuk produksi ikan yang melimpah, juga ada nilai non market dalam bentuk kekayaan biodiversitas dan juga dapat dikembangkan menjadi kawasan pariwisata,” ujar Dr. Zuzy yang juga staf pengajar tamu Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unpad ini.

Pemerintah sendiri telah memiliki rencana konservasi wilayah perairan dalam mendukung penerapan Sustainable Development Goals (SDGs). Dalam rencana kerja Kementerian Kelautan dan Perikanan, ada tujuh sasaran kerja sebagai implementasi 14 tujuan dasar SDGs di sektor perikanan.

Tujuh sasaran tersebut diantaranya, pengurangan aktivitas pencemaran laut; pengelolaan dan perlindungan ekosistem laut dengan cara memperkuat pertanan dan pemulihan kondisi untuk mencapai laut yang sehat dan kondusif; menimalisir dan mengatasi dampak pengasaman laut; pengurangan IUU Fishing dan over fishing; penyediaan lahan konservasi laut sebesar 10% dari wilayah pesisir dan perairan; memiliki instrumen pelarangan aktivitas yang mengarah pada over fishing; serta pengelolaan perikanan berkelanjutan, budidaya, dan pariwisata untuk meningkatkan manfaat ekonomi.

Selain di laut, Dr. Zuzy juga mendorong pengembangan potensi perikanan di wilayah darat. Ia menilai, perikanan darat seperti perikanan waduk juga memilki potensi yang luar biasa. Selain di budidaya, pengelolaan perikanan di darat juga dapat dikembangkan melalui perikanan tangkap. “Ini yang belum mendapatkan porsi bagus dari pemerintah,” ujar Dr. Zuzy.

Guna mendukung hal itu, kontribusi Pemerintah bukan semata menyediakan stok ikan melalui restocking untuk perairan darat. Yang lebih penting adalah memberikan pendidikan yang baik kepada masyarakat terkait bagaimana pengelolaan perikanan tangkap di kawasan perairan darat agar berkelanjutan dan tidak memerlukan restocking yang terus menerus.

Jika dilihat dari potensinya, sektor perikanan mampu mendukung terwujudnya ketahanan pangan di Indonesia. Dr. Zuzy pun menaruh harapan besar pada sektor ini. Ia optimis sektor perikanan mampu berkontribusi dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Kepercayaan tersebut didasarkan fakta bahwa Indonesia sudah tidak bisa lagi bertahan mengandalkan sektor migas. Ini didasarkan pada sulitnya menemukan lokasi-lokasi cadangan sumber daya alam baru di Indonesia.

“Kita belum memiliki teknologi (eksplorasi) yang baik, masih sangat bergantung pada investor asing. Sementara biaya investasi eksplorasi saat ini sangat tinggi, tetapi resource rent yang diperoleh bangsa Indonesia bisa jadi sangat sedikit dibandingkan potensinya” jelas Dr. Zuzy.

Pada akhirnya, laut menjadi harapan lain bagi peningkatan kesejahteraan bangsa. Sudah saatnya Pemerintah bersama masyarakat peduli dan mulai berupaya mewujudkan perikanan berkelanjutan melalui aksi dan regulasi yang baik.*

 

Laporan oleh Arief Maulana